Oleh : Neneng Rita M, S.Pd.
Anak merupakan anggota masyarakat yang notabene merupakan generasi penerusbangsa, dan dipersiapkan pendidikannya untuk kemajuan di masa depan. Sebagian orangmengatakan bahwa anak ibarat kertas kosong, yang dapat diisi dan terisi oleh hal-halyang berada disekeliling lingkungan tempat tinggalnya dimana anak tumbuh danberkembang. Oleh karena itulah penulis disini ingin mengungkapkan beberapa halmengenai pendidikan bahasa untuk anak-anak dari sejak dini.
Seiring kemajuan jaman yang sudah semakin pesat dan semakin terbukanya jalurjalurkomunikasi dapat memungkinkan kebudayaan Nasional dengan mudahnya memudar, oleh sebab itu kita harus menanamkan kecintaan anak-anak akan warisannenek moyang kita, salah satunya yaitu terhadap bahasa leluhur atau bahasa ibu yangsudah dipakai sejak lama.
Bahasa ibu (bahasa asli, bahasa pertama; secara harafiah mother tongue dalambahasa Inggris) adalah bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Dan orangnyadisebut penutur asli dari bahasa tersebut. Biasanya seorang anak belajar dasar-dasarbahasa pertama mereka dari keluarga mereka. Kepandaian dalam bahasa asli sangatpenting untuk proses belajar berikutnya, karena bahasa ibu dianggap sebagai dasar caraberpikir.1 Kepandaian yang kurang dari bahasa pertama seringkali membuat prosesbelajar bahasa lain menjadi sulit. Bahasa asli oleh karena itu memiliki peran pusat dalampendidikan. misalnya saja di tanah Pasundan bahasa daerahnya bahasa Sunda, bahasadaerah yang ada di Indonesia seperti bahasa Jawa, bahasa Batak, bahasa Ambon, bahasaSunda dan bahasa-bahasa daerah lainnya. Karena penulis adalah seseorang yang tinggaldi daerah Pasundan, maka bahasa ibu atau bahasa daerah yang ingin diungkapkan disini
adalah bahasa Sunda.
Sebagai orang Sunda penulis merasa prihatin dengan keaadaan sekarang, orangSunda jarang sekali menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa Ibu. apakah ini karenakemajuan jaman? Atau karena tidak adanya dukungan dari pemerintah danmasyarakatnya?, oleh karena itulah sudah menjadi tugas kita semua untuk bisa mendidikanak atau mengenalkan anak dengan bahasa ibunya, sehingga anak-anak tidak merasaaneh/heran dan bahkan keberatan karena susah menggunakan bahasa ibu. Penulis yakin ini memang merupakan tugas yang berat dan tidak mudah, sehingga memerlukandukungan dan dorongan dari semua komponen masyarakat termasuk pemerintah daerahmemperhatikan perkembangan bahasa ibu atau bahasa daerahnya.
Pada tanggal 21 Februari UNESCO menetapkan sebagai hari bahasa ibuInternasional, hal ini mencerminkan bahwa bahasa-bahasa daerah di seluruh dunia telahmengalami kemunduran dan kepunahan. Apakah kita yang sekarang masih bisamemelihara dan melestarikan bahasa daerah? atau hanya akan diam saja tanpa melakukanapa-apa?
Penulis mengajak untuk mendidik dan mengenalkan bahasa ibu pada anak-anaksejak usia dini, karena hal-hal yang diterapkan atau diperkenalkan pada anak ketika masihkecil akan melekat sampai dewasa kelak. Hal ini diharapkan dapat dijadikan sebagaiupaya penanaman nilai-nilai budaya dareah tanpa meninggalkan budaya global dan jugapelestarian kebudayaan khususnya bahasa ibu atau bahasa daerah.
Melihat fenomena sekarang akan penggunaan bahasa Ibu, ada beberapa carauntuk memperkenalkan pada anak diantaranya: 1) Dengan menggunakan bahasa ibuuntuk hal-hal kecil dulu yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, contohnya untuk halhalatau benda-benda yang ada disekitar kita, kita perkenalkan menggunakan bahasadaerah misalnya “katak=bangkong”, kucing=ucing” , “matahari=panon poé”, atau namanamahari menggunakan bahasa daerah “Senin=Senén”, “Selasa=Salasa” unutuk tingkatyang lebih lanjut bisa menggunakan pengucapan kata “selamat pagi” dengan kata“wilujeng enjing”, atau “ayo kita belajar!” dengan kata “hayu urang diajar!”,”pintar” jadi“pinter”, “ayo kita main” dengan kata “ hayu urang ameng” dan lain sebagainya. 2)Selain itu bisa juga mengenalkan bahasa daerah pada anak-anak melalui buku-bukuberbahasa daerah atau cerita-cerita berbahasa daerah, dengan demikian anak tidak merasaaneh ketika menemukan beberapa kata dalam bahasa daerah atau bahasa ibunya sendiri.Marilah kita coba mendidik anak untuk menggunakan bahasa ibunya darisejak dini agar mereka bisa mengenal kebudayaan daerahnya, karena didalam budayawarisan leluhur tersebut terkandung nilai-nilai filosofis atau ajaran-ajaran yang sangatluhur mengenai kehidupan dan perilaku manusia itu sendiri, serta dapat tetap memegangteguh kebudayaannya tanpa meninggalkan arus globalisasi. Bangsa yang besar adalahbangsa yang menghargai kebudayaan nenek moyangnya.
Seiring kemajuan jaman yang sudah semakin pesat dan semakin terbukanya jalurjalurkomunikasi dapat memungkinkan kebudayaan Nasional dengan mudahnya memudar, oleh sebab itu kita harus menanamkan kecintaan anak-anak akan warisannenek moyang kita, salah satunya yaitu terhadap bahasa leluhur atau bahasa ibu yangsudah dipakai sejak lama.
Bahasa ibu (bahasa asli, bahasa pertama; secara harafiah mother tongue dalambahasa Inggris) adalah bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Dan orangnyadisebut penutur asli dari bahasa tersebut. Biasanya seorang anak belajar dasar-dasarbahasa pertama mereka dari keluarga mereka. Kepandaian dalam bahasa asli sangatpenting untuk proses belajar berikutnya, karena bahasa ibu dianggap sebagai dasar caraberpikir.1 Kepandaian yang kurang dari bahasa pertama seringkali membuat prosesbelajar bahasa lain menjadi sulit. Bahasa asli oleh karena itu memiliki peran pusat dalampendidikan. misalnya saja di tanah Pasundan bahasa daerahnya bahasa Sunda, bahasadaerah yang ada di Indonesia seperti bahasa Jawa, bahasa Batak, bahasa Ambon, bahasaSunda dan bahasa-bahasa daerah lainnya. Karena penulis adalah seseorang yang tinggaldi daerah Pasundan, maka bahasa ibu atau bahasa daerah yang ingin diungkapkan disini
adalah bahasa Sunda.
Sebagai orang Sunda penulis merasa prihatin dengan keaadaan sekarang, orangSunda jarang sekali menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa Ibu. apakah ini karenakemajuan jaman? Atau karena tidak adanya dukungan dari pemerintah danmasyarakatnya?, oleh karena itulah sudah menjadi tugas kita semua untuk bisa mendidikanak atau mengenalkan anak dengan bahasa ibunya, sehingga anak-anak tidak merasaaneh/heran dan bahkan keberatan karena susah menggunakan bahasa ibu. Penulis yakin ini memang merupakan tugas yang berat dan tidak mudah, sehingga memerlukandukungan dan dorongan dari semua komponen masyarakat termasuk pemerintah daerahmemperhatikan perkembangan bahasa ibu atau bahasa daerahnya.
Pada tanggal 21 Februari UNESCO menetapkan sebagai hari bahasa ibuInternasional, hal ini mencerminkan bahwa bahasa-bahasa daerah di seluruh dunia telahmengalami kemunduran dan kepunahan. Apakah kita yang sekarang masih bisamemelihara dan melestarikan bahasa daerah? atau hanya akan diam saja tanpa melakukanapa-apa?
Penulis mengajak untuk mendidik dan mengenalkan bahasa ibu pada anak-anaksejak usia dini, karena hal-hal yang diterapkan atau diperkenalkan pada anak ketika masihkecil akan melekat sampai dewasa kelak. Hal ini diharapkan dapat dijadikan sebagaiupaya penanaman nilai-nilai budaya dareah tanpa meninggalkan budaya global dan jugapelestarian kebudayaan khususnya bahasa ibu atau bahasa daerah.
Melihat fenomena sekarang akan penggunaan bahasa Ibu, ada beberapa carauntuk memperkenalkan pada anak diantaranya: 1) Dengan menggunakan bahasa ibuuntuk hal-hal kecil dulu yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, contohnya untuk halhalatau benda-benda yang ada disekitar kita, kita perkenalkan menggunakan bahasadaerah misalnya “katak=bangkong”, kucing=ucing” , “matahari=panon poé”, atau namanamahari menggunakan bahasa daerah “Senin=Senén”, “Selasa=Salasa” unutuk tingkatyang lebih lanjut bisa menggunakan pengucapan kata “selamat pagi” dengan kata“wilujeng enjing”, atau “ayo kita belajar!” dengan kata “hayu urang diajar!”,”pintar” jadi“pinter”, “ayo kita main” dengan kata “ hayu urang ameng” dan lain sebagainya. 2)Selain itu bisa juga mengenalkan bahasa daerah pada anak-anak melalui buku-bukuberbahasa daerah atau cerita-cerita berbahasa daerah, dengan demikian anak tidak merasaaneh ketika menemukan beberapa kata dalam bahasa daerah atau bahasa ibunya sendiri.Marilah kita coba mendidik anak untuk menggunakan bahasa ibunya darisejak dini agar mereka bisa mengenal kebudayaan daerahnya, karena didalam budayawarisan leluhur tersebut terkandung nilai-nilai filosofis atau ajaran-ajaran yang sangatluhur mengenai kehidupan dan perilaku manusia itu sendiri, serta dapat tetap memegangteguh kebudayaannya tanpa meninggalkan arus globalisasi. Bangsa yang besar adalahbangsa yang menghargai kebudayaan nenek moyangnya.
